Kurangnya sampel korban dapat pengaruhi identifikasi

Jakarta (ANTARA News) – Sebanyak 37 sampel fisik khas korban sebelum meninggal (ante mortem) dari keluarga korban yang belum diambil dapat mempengaruhi proses identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

“Akan berpengaruh. Apabila DNA, post mortem sudah didapatkan, tetapi mungkin belum cocok karena yang 37 belum masuk,” kata Wakil Kepala Rumah Sakit Polri Said Sukanto Kombes Polisi Haryanto di Jakarta, Kamis.

Hingga Kamis, Tim Disaster Victim Identificafion (DVI) Polri telah mengambil 152 sampel fisik khas korban sebelum meninggal dari keluarga korban.

Masih adanya 37 ante mortem yang belum diambil salah satunya diduga karena terdapat dua keluarga yang masuk di dalam daftar korban.

Selain itu, keluarga yang datang ke RS Polri untuk memberikan sampel bukan keluarga inti (ayah, ibu, anak).

Haryanto mengatakan identifikasi korban dengan pencocokan DNA memerlukan waktu 4-8 hari setelah sampel masuk laboratorium.

“Kalau 37 nanti menyusul, ini hitungannya dari data masuk. Kantong jenazah dikirim, kantong hari pertama 24, kedua 24 dan ketiga delapan. Masuk laboratorium DNA juga bertahap” kata Haryanto.

Untuk 24 kantong jenazah yang diterima RS Polri pada hari pertama (Senin), diharapkan hasil identifikasinya keluar Sabtu atau Minggu pekan ini.

Hingga Kamis, Tim DVI berhasil mengidentifikasi seorang perempuan yang menjadi korban pesawat jatuh Lion Air bernama Jannatun Cintya Dewi (24) asal Sidoarjo Jawa Timur.

Para ahli mengidentifikasi Jannatun berdasarkan pencocokkan sidik jari tangan dengan ijasah yang diperkuat data DNA.

Baca juga: DVI mengandalkan pencocokan DNA untuk mengidentifikasi korban Lion Air

Baca juga: DVI dalami dua keluarga korban JT 610

Baca juga: Belum ada tambahan jenazah korban teridentifikasi

Pewarta: Dyah Dwi Astuti
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018